Barack Hussein Obama, the POTUS
Pada tanggal 20 Januari 2009 yang lalu, Barack Obama resmi menjadi POTUS (President of the United States). Banyak harapan yang ditanam pada diri Obama, baik oleh masyarakat Amerika maupun masyarakat dunia. Dengan mengusung slogan “Change, We Can Believe in”, Obama mampu menyihir penduduk dunia untuk memberikan dukungan pada dirinya menjadi presiden Amerika. Obama sangat diharapkan untuk dapat mengubah perilaku politik Amerika di dunia internasional menjadi lebih teduh, lebih menjaga perdamaian dunia, dan lebih adil. Rakyat Amerika menanti janji Obama untuk memanggil pulang pasukan Amerika yang ada di Irak. Masyarakat dunia menunggu peran Obama dalam menutup penjara Guantanamo di Cuba, serta proses perdamaian di Timur Tengah.
Banyak yang optimis, tapi tidak sedikit juga yang pesimis. Terutama mengenai perdamaian di Timur Tengah. Hal ini didasarkan fakta bahwa sang presiden keep silent sepanjang agresi Israel di jalur Gaza, dengan alasan belum menjadi presiden Amerika. Suatu hal yang kontradiksi dimana Obama langsung bereaksi dengan memberikan kecaman kepada para pelaku teror di Mumbai India. Ketika berkunjung ke Israel pada masa kampanye, di depan komunitas yahudi Israel, Obama mengatakan “Jika ada yang menembakkan roket ke kediaman saya pada saat kedua putri saya sedang tidur, maka saya akan menggunakan segala kekuatan untuk menghancurkannya“. Banyak pengamat mengatakan bahwa ini merupakan sinyal dimana lobi yahudi masih sangat kuat terhadap Obama. Dan diyakini perkataan Obama ini juga yang membuat Israel tidak segan-segan melakukan aksi militer ke Gaza. Selama agresi militer Israel ke Gaza, Obama menikmati liburannya di Hawai. Bahkan pada pidato pertamanya sebagai presiden, Obama tidak menyinggung masalah serangan Israel ke Gaza.
Condoleezza Rice, Menteri Luar Negeri era Bush, pernah mengatakan bahwa politik luar negeri Amerika tidak pernah berubah. Hal ini semakin menguatkan bahwa perdamaian di Timur Tengah tetap akan sulit tercapai. Ditambah dengan situasi krisis finansial dalam negeri Amerika sendiri yang memerlukan perhatian lebih, membuat semakin banyak pihak yang pesimis bahwa Change akan terjadi di dunia ini, karena tentunya Obama akan lebih mendahulukan permasalahan dalam negeri.
Semua telah terjadi, Israel sudah menyerang Gaza, dan Obama sudah menjadi presiden. Walaupun saya termasuk orang yang pesimis, saya tetap berharap semoga Obama benar-benar bisa memberikan Change. Bisa bersikap adil terhadap Israel yang telah menewaskan ribuan orang di Gaza, dan bisa bersikap arif terhadap Hamas yang merupakan pemenang pemilu di Palestina.
Apakah Change itu akan datang ? Atau hanya menjadi jualan politik tak ubahnya seperti kampanye di negara kita ? Waktu yang akan menjawab. Jika Change itu tidak terjadi, semakin meyakinkan kita bahwa America is America.
Berikut ini cuplikan kampanye Obama yang membuat pesimis akan terjadinya perdamaian di Timur Tengah, khususnya konflik Israel dan Palestina.





